XAU/USD masih wait and see karena trader tunggu NFP AS, 1 hari, #Emas Fundamental   |   EUR/JPY berada dalam tekanan jual di bawah harga 164.50, kondisi RSI yang oversold dipantau, 1 hari, #Forex Teknikal   |   GBP/USD bergerak di atas level 1.2550, menguji batas atas channel, 1 hari, #Forex Teknikal   |   EUR/USD naik mendekati level 1.0750 karena sentimen risiko kembali netral, 1 hari, #Forex Teknikal   |   Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada awal perdagangan Jumat (3/Mei), naik 0.4% ke 7,160, 1 hari, #Saham Indonesia   |   PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) membukukan rugi tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp691.2 miliar per Maret 2023. , 1 hari, #Saham Indonesia   |   PT Mitrabara Adiperdana Tbk. (MBAP) menganggarkan belanja modal dan investasi senilai $58 juta, 1 hari, #Saham Indonesia   |   PT Sumber Sinergi Makmur Tbk. (IOTF) atau Fox Logger membidik peluang bisnis dari implementasi pembayaran tol tanpa sentuh berbasis Global Navigation Satellite System yang akan segera diterapkan di Indonesia, 1 hari, #Saham Indonesia

Turunnya GDP China Picu Stimulus Lanjutan

M Singgih 23 Oct 2014
Dibaca Normal 3 Menit
forex > analisa >   #stimulus   #gdp
Sejak kwartal ke 3 tahun 2011 GDP China terus turun dari 9.2% ke 7.3% pada kwartal ke 3 tahun ini. GDP kwartal ke 3 ini adalah yang terendah sejak 2009. Dengan resiko disinflasi global saat ini diperkirakan pemerintah Beijing akan menerapkan program stimulus lanjutan.

Ekonomi China kwartal ke 3 (q/y) tumbuh 7.3% (rilis GDP 20 Oktober lalu), lebih tinggi dari perkiraan 7.2% tetapi lebih rendah dari kwartal ke 2 yang tumbuh 7.5%. Menurut Biro Statistik Nasional China yang merilis data ini pertumbuhan kwartal ke 3 tersebut lebih disebabkan oleh naiknya output industri bulan September yang naik 8% dibandingkan kenaikan bulan sebelumnya yang 6.9% (rilis Industrial Production 20 Oktober lalu), sementara Fixed Asset Investment (FAI) turun ke 16.1% dari sebelumnya 16.5%. Investasi di sektor real estate bulan September juga turun ke 12.5% dari sebelumnya 13.2%, dan Retail Sales naik 11.6% dibandingkan bulan Agustus yang naik 11.9%.

Sejak kwartal ke 3 tahun 2011 pertumbuhan China terus turun dari 9.2% ke 7.3% pada kwartal ke 3 tahun ini. GDP kwartal ke 3 tahun ini adalah yang terendah sejak tahun 2009, dan hingga kwartal ke 3 ini ekonomi China tumbuh 7.4% sementara target pemerintah untuk tahun 2014 adalah 7.5%. Pelaku pasar memperkirakan dengan disinflasi global saat ini target tahun 2014 tersebut akan sulit dicapai dan akan menyebabkan pemerintah (Partai Komunis China) merevisi target pertumbuhannya untuk tahun 2015.

Turunnya sektor properti
Sejak kwartal ke 2 tahun ini beberapa data fundamental penting China cenderung melemah. Neraca perdagangan bulan Agustus 2014 memang mencapai rekor surplus tertinggi sebesar USD 49.8 milyard akibat meningkatnya ekspor, tetapi kebenaran data tersebut agak diragukan karena dugaan kemungkinan manipulasi faktur oleh para eksportir. Seperti tampak pada gambar berikut GDP yang mulai melemah bersamaan dengan naiknya inflasi kurang mendapat tanggapan yang serius, dan turunnya tingkat inflasi hingga dibawah 2% sekarang (CPI y/y September lalu 1.6%) memicu turunnya pertumbuhan akibat merosotnya permintaan domestik dan lemahnya kepercayaan konsumen.

                              Turunnya GDP China Picu Stimulus

Turunnya pertumbuhan ekonomi juga disebabkan oleh cenderung melemahnya output industri dan penjualan retail yang menunjukkan menurunnya aktivitas perekonomian.

                             Turunnya GDP China Picu Stimulus

Disamping itu ancaman terbesar pertumbuhan ekonomi China saat ini adalah turunnya harga properti seperti tampak pada gambar berikut. Sektor konstruksi dan real estate menyumbang 15% dari GDP China dan merupakan tulang punggung perekonomian. China telah meningkatkan produksi semen dengan cukup signifikan pada tahun 2011 dan 2012 lalu sebagai antisipasi meledaknya permintaan sektor properti. Bersamaan dengan itu kredit perumahan meningkat tajam sejak 5 tahun terakhir.

                             Turunnya GDP China Picu Stimulus

Analis memperkirakan dengan resiko disinflasi global saat ini pemerintah Beijing dan People Bank of China (PBoC) kemungkinan  besar akan menerapkan program stimulus lanjutan. Sebelumnya China telah menjalankan program stimulus pada April lalu yang menyebabkan meningkatnya proyek konstruksi perumahan dan naiknya GDP kwartal ke 2 ke angka 7.5%.

Sumber : www.actionforex.com : Decelerated Chinese Growth Calls For More Easing
                    www.forex.com : China GDP preview: Q3 was a tough quarter

Terkait Lainnya
 

Kirim Komentar Baru